askudra sakta

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

serangan umum 1 maret


Pencetus Serangan Umum 1 Maret

Pada tanggal 1 maret minggu ini, tepat 60 tahun lalu, pada pukul 06.00, kota Yogyakarta dikejutkan oleh sebuah serangan fajar. 2000 personel pasukan gabungan TNI, Polisi, Satuan TP/TGP, dan satuan kelaskaran melakukan serangan serentak ke kota Yogyakarta dari empat penjuru mata angin. Mereka menamai serangan ini serangan oemoem 1 maret 1949.
Serangan umum 1 maret dipicu propaganda Belanda kepada dunia Internasional. Belanda mengatakan bahwa tak ada lagi pemerintahan di Republik Indonesia, pasalnya Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Bung Hatta serta beberapa menteri telah ditawan di Bangka. Selain itu, Belanda juga menganggap serangan-serangan gerilya yang dilakukan TNI adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh kelompok 'ekstremis' yang telah berhasil dilumpuhkan oleh Belanda. Belanda menyebut tindakan ini sebagai 'aksi polisionil' atau tindakan pengamanan.
Oleh karena itu, perlu ditunjukkan kepada dunia internasional bahwa RI masih ada dan masih menjalankan roda pemerintahan. Akhirnya diputuskan bahwa sebuah serangan besar yang dilakukan pada siang hari memang dibutuhkan untuk memberitakan kepada dunia bahwa RI masih ada. Kelak serangan ini disebut Serangan umum 1 maret.
Serangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto ini dilakukan pada saat sirine pergantian jam malam dibunyikan , yaitu tepat pukul 06.00. Akhirnya Yogyakarta berhasil diduduki selama enam jam.
Serangan umum 1 maret berdampak cukup besar bagi Belanda. Upayanya menghapuskan RI dari peta melalui Agresi Militer II menuai kegagalan. Dukungan Internasional kepada Indonesia semakin jelas arahnya. Dunia lalu menyeret Belanda untuk melakukan perundingan dengan Indonesia.
Serangan umum 1 maret merupakan suatu prestasi besar bagi TNI khususnya, dan bagi bangsa Indonesia umumnya. Namun dibalik kesuksesannya itu, ada satu hal yang perlu dipertanyakan, siapakah yang memprakarsai Serangan umum 1 maret? Pertanyaan ini membutuhkan sebuah jawaban yang realistis supaya tidak terjadi suatu pembohongan sejarah yang nantinya akan merugikan generasi bangsa berikutnya.
Sekiranya ada tiga tokoh yang didaulat menjadi pencetus ide serangan besar ini, yaitu Letkol Soeharto, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Bambang Sugeng(Panglima divisi III). Namun, untuk dimintai keterangan, ketiga tokoh tersebut telah tiada. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian buku-buku yang berkaitan dengan peristiwa 1 maret 1949.
Soeharto mengklaim bahwa dirinyalah yang mencetuskan ide tersebut. Ia memaparkan hal tersebut dalam biografinya, Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (PT Citra Lamtoro Gung Persada, 1988)
Persis sewaktu saya menyetel radio memantau siaran luar negeri bersama-sama Purhadi, perwira PHB(Perhubungan) yang sekarang sudah tiada, terdengar siaran luar negeri mengenai perdebatan di PBB......
Seketika saya berpikir, “Bahan apa yang akan digunakan Palar, wakil RI di PBB untuk menjawab pertanyaan pihak Belanda itu?” Maka muncul keputusan dalam pikiran saya: kita harus melakukan serangan pada siang hari, supaya bisa menunjukkan kepada dunia, kebohongan Belanda itu.
Dalam surat perintahnya, Bambang Sugeng memerintahkan kepada Letkol Moch Bachrum, letkol Sarbini, dan Letkol Soeharto untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang dapat menarik perhatian dunia luar dan mengadakan perlawanan di daerah masing-masing.
Sedangkan PBB berpendapat bahwa serangan itu dilakukan oleh 'orang yang memiliki kekuasaan relatif, mengetahui seluk beluk kota, memiliki kharisma, dan memiliki cukup wewenang untuk menekankan keinginannya kepada para komandan dari beragam unit'. Yang dimaksud disini tak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Buku terbitan Seskoad menyebutkan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Letkol Soeharto bersama-sama mendengar pemancar radio luar negeri dan mengikuti perdebatan D ewan Keamanan PBB tentang masalah Indonesia. Ini berbeda dengan tulisan di otobiografi Soeharto diatas, bahwa ia (Soeharto) mendengar radio bersama Purhadi, bukan bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ada kemungkinan terjadi suatu kebohongan disini.
Walaupun disebutkan untuk melakukan serangan serentak yang dapat menarik perhatian dunia luar, namun dalam surat perintahnya, Bambang Sugeng tidak menyebutkan kata 1 Maret. Kemungkinan besar bukan dia yang menggagas serangan umum.
Logis jika dikatakan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai pencetus ide serangan umum. Ia memiliki kekuasaan besar, mengetahui seluk-belik kota Yogyakarta, memiliki kharisma, dan memiliki wewenang besar untuk menekankan keinginannya kepada komandan dari beragam unit.
Namun, kesimpulan ini tidaklah 100% valid, mengingat banyaknya data sejarah yang 'hilang' pada masa orde baru. Oleh karena itu, dihimbau kepada para sejarahwan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mendapatkan hasil yang valid.


Bogor, Dinihari 24 Februari 2009

0 komentar:

Poskan Komentar